Ketika Ibu Kehilangan Identitas Diri Setelah Menikah dan Punya Anak

 

Ketika Ibu Kehilangan Identitas Diri Setelah Menikah dan Punya Anak


"Dulu aku punya banyak mimpi. Sekarang aku bahkan lupa terakhir kali melakukan sesuatu untuk diriku sendiri."

Suatu hari, ada seorang ibu yang ditanya oleh temannya,

"Kalau punya waktu luang, kamu paling suka ngapain?"

Ia terdiam cukup lama.

Bukan karena tidak punya jawaban.

Tetapi karena sudah terlalu lama tidak memikirkan dirinya sendiri.

Sejak menikah.

Sejak punya anak.

Sejak hidupnya dipenuhi daftar kebutuhan orang lain.

Sarapan anak.

Seragam sekolah.

Tagihan rumah.

Jadwal imunisasi.

Belanja bulanan.

Pekerjaan kantor.

Pekerjaan rumah.

Dan entah sejak kapan, dirinya sendiri selalu berada di urutan paling belakang.

Padahal dulu, ia punya banyak mimpi.

Hmm, apakah sahabat Bengkel Bunda pernah merasakan hal ini juga?

Menjadi Ibu Adalah Peran, Bukan Seluruh Identitas

Tahukah sahabat, ada fase yang sering dialami banyak perempuan setelah memiliki anak.

Perlahan, hidupnya menjadi sangat berpusat pada keluarga.

Bangun tidur memikirkan anak.

Tidur kembali setelah memastikan semua kebutuhan rumah selesai.

Hari demi hari berjalan seperti itu.

Lalu tanpa sadar, identitas dirinya mulai memudar.

Bukan karena ia tidak bahagia menjadi ibu.

Bukan juga karena ia tidak mencintai keluarganya.

Tetapi karena seluruh energinya habis untuk merawat orang lain.

Sampai lupa merawat dirinya sendiri.

Dulu mungkin ia dikenal sebagai seseorang yang suka menulis.

Suka menggambar.

Suka membaca buku sampai larut malam.

Punya mimpi membangun usaha.

Punya daftar tempat yang ingin dikunjungi.

Sekarang, ketika ditanya tentang dirinya, yang muncul lebih dulu justru perannya:

"Saya ibu dua anak."

Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Hanya saja, kadang kita lupa bahwa sebelum menjadi ibu, kita juga seorang manusia dengan keinginan, mimpi, dan kebutuhan emosional.

Kelelahan yang Tidak Selalu Terlihat

Banyak orang mengira pekerjaan seorang ibu hanya soal pekerjaan fisik.

Padahal yang sering membuat lelah justru pekerjaan yang tidak terlihat.

Mengingat jadwal anak.

Mengingat kebutuhan rumah.

Memikirkan banyak hal sekaligus setiap hari.

Dalam dunia psikologi, ini sering disebut mental load.

Beban pikiran yang terus berjalan bahkan ketika tubuh sedang beristirahat.

Data dari UN Women menunjukkan perempuan masih melakukan sebagian besar pekerjaan perawatan dan domestik yang tidak dibayar di seluruh dunia. Perempuan menghabiskan lebih dari dua kali lipat waktu dibanding laki-laki untuk pekerjaan perawatan keluarga. 

Tidak heran jika banyak ibu merasa lelah meski seharian tidak keluar rumah.

Karena pikirannya hampir tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.

Ketika Semua Orang Membutuhkan Kita

Menariknya, banyak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi perempuan yang baik berarti selalu mendahulukan orang lain.

Ibu yang baik harus sabar.

Ibu yang baik harus kuat.

Ibu yang baik harus bisa mengurus semuanya.

Akibatnya, ketika ingin beristirahat saja, muncul rasa bersalah.

Ketika ingin me-time, merasa egois.

Ketika ingin mengejar mimpi pribadi, merasa seperti ibu yang tidak bertanggung jawab.

Padahal manusia memang membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri.

Dan ibu tetaplah manusia.

Baca Juga : Burnout Ibu Rumah Tangga: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Belakangan, isu parental burnout juga semakin banyak dibicarakan. Penelitian terbaru tentang pengalaman ibu yang mengalami kelelahan pengasuhan menunjukkan banyak ibu merasa terjebak dalam ekspektasi untuk selalu hadir, selalu mampu, dan selalu mengutamakan kebutuhan keluarga di atas dirinya sendiri. Kurangnya dukungan pasangan dan pembagian peran yang tidak seimbang menjadi salah satu penyebab yang sering muncul. 

Mungkin karena itulah banyak ibu merasa lelah bukan hanya secara fisik.

Tetapi juga secara emosional.

Yang Hilang Sebenarnya Bukan Diri Kita

Sahabat, ada satu hal yang sering saya percaya.

Ketika seorang ibu merasa kehilangan dirinya sendiri, sebenarnya dirinya tidak benar-benar hilang.

Ia hanya tertutup oleh terlalu banyak tanggung jawab.

Mimpi-mimpi itu masih ada.

Keinginan-keinginan itu masih ada.

Hanya tertunda.

Hanya lama tidak disapa.

Mungkin kita tidak bisa langsung kembali menjadi diri yang dulu.

Karena hidup memang sudah berubah.

Tetapi bukan berarti kita tidak bisa mengenal diri kita lagi.

Mungkin dimulai dari hal kecil.

Membaca buku yang sudah lama ingin dibaca.

Menulis beberapa paragraf sebelum tidur.

Berjalan pagi sendirian.

Mengikuti kelas yang disukai.

Menghidupkan kembali hobi lama.

Bukan karena ingin lari dari keluarga.

Justru karena kita ingin kembali terhubung dengan diri sendiri.

Anak Tidak Membutuhkan Ibu yang Mengorbankan Segalanya

Sering kali kita berpikir bahwa menjadi ibu yang baik berarti memberikan seluruh diri kita.

Padahal anak tidak sedang belajar dari pengorbanan kita saja.

Mereka juga belajar dari cara kita memperlakukan diri sendiri.

Anak perempuan belajar bagaimana perempuan menghargai dirinya.

Anak laki-laki belajar bagaimana perempuan seharusnya dihargai.

Jika setiap hari mereka melihat ibunya kelelahan, mengabaikan dirinya, dan merasa tidak penting, pesan itu juga akan mereka serap.

Karena itu, merawat diri bukan bentuk egoisme.

Merawat diri adalah bagian dari merawat keluarga.

Pelan-Pelan Pulang ke Diri Sendiri

Mungkin hari ini kita belum bisa melakukan banyak hal.

Tidak apa-apa.

Tidak semua proses menemukan diri harus dimulai dengan langkah besar.

Kadang cukup dengan mengingat kembali satu pertanyaan sederhana:

"Apa yang membuatku bahagia?"

Dan jika sampai hari ini jawabannya belum ditemukan, tidak apa-apa juga.

Pelan-pelan saja.

Baca Juga : Belajar Menjadi Perempuan yang Tidak Selalu Ingin Menyenangkan Semua Orang

Karena setelah bertahun-tahun sibuk menjadi segalanya untuk semua orang, mungkin kita memang perlu waktu untuk kembali mengenal diri sendiri.

Sebab menjadi ibu adalah bagian penting dari hidup kita.

Tetapi itu bukan satu-satunya hal tentang diri kita.

Di balik peran sebagai ibu, istri, dan pengurus rumah tangga, masih ada seorang perempuan yang layak didengar, dirawat, dan dicintai.

Termasuk oleh dirinya sendiri. 


No comments