Halo, sahabat Bengkel Bunda!
Pernah nggak sih, merasa capek banget… padahal seharian tidak melakukan hal besar?
Badan memang lelah, tapi yang lebih terasa justru hati dan pikiran. Rasanya seperti terus berjalan tanpa benar-benar punya waktu untuk diri sendiri.
Setelah direnungkan, ternyata penyebabnya bukan cuma pekerjaan rumah, urusan anak, atau tumpukan tanggung jawab lainnya.
Melainkan karena terlalu sering berusaha menyenangkan semua orang.
Tak enak menolak.
Takut dianggap jahat.
Takut mengecewakan.
Takut dinilai berubah.
Akhirnya, kita terus berkata “iya” bahkan saat hati sebenarnya ingin berkata “tidak”.
Perempuan dan Tuntutan Menjadi “Baik”
Sejak kecil, banyak perempuan tumbuh dengan tuntutan untuk menjadi sosok yang baik dan menyenangkan.
Harus sabar.
Harus mengerti.
Harus mengalah.
Harus menjaga perasaan orang lain.
Kalimat seperti:
“Jangan bikin orang kecewa.”
“Perempuan itu harus lembut.”
“Masa begitu aja nggak bisa?”
“Kok jadi egois sih?”
…sering terdengar sangat biasa.
Tanpa sadar, banyak perempuan akhirnya terbiasa menomorduakan dirinya sendiri demi kenyamanan orang lain.
Padahal, terus-menerus mengabaikan diri sendiri bisa membuat hati lelah.
Ketika Menyenangkan Orang Lain Menjadi Beban
Membantu orang lain tentu hal yang baik. Peduli juga sesuatu yang indah.
Namun, ada perbedaan besar antara membantu dengan tulus dan memaksa diri agar terus diterima semua orang.
Dalam psikologi, perilaku ini sering disebut people pleasing.
Ciri-cirinya mungkin terdengar familiar:
sulit berkata tidak,
merasa bersalah saat menolak,
takut konflik,
terlalu memikirkan pendapat orang,
meminta maaf berlebihan,
merasa harus selalu tersedia untuk semua orang.
Awalnya terlihat seperti sikap baik.
Tapi lama-lama melelahkan.
Karena kita sibuk menjaga perasaan semua orang, sampai lupa bertanya:
“Bagaimana perasaan diri sendiri?”
Banyak dari Kita Pernah Berada di Fase Itu
Ada masa ketika kita merasa harus selalu siap untuk siapa saja.
Kalau ada yang meminta bantuan, kita langsung mengiyakan.
Kalau ada yang membuat tidak nyaman, kita memilih diam.
Kalau lelah, kita tetap memaksa diri karena takut dianggap tidak peduli.
Kita pikir itu bentuk kedewasaan.
Ternyata bukan.
Itu hanya membuat kita semakin jauh dari diri sendiri.
Semakin dewasa, kita mulai belajar bahwa menjadi perempuan baik tidak berarti harus terus mengorbankan diri sendiri.
Kadang kita juga perlu berkata:
“Saya sedang capek.”
“Saya belum bisa.”
“Saya ingin istirahat dulu.”
Dan ternyata, dunia tidak runtuh karena itu.
Tidak Semua Orang Harus Menyukai Kita
Ini mungkin salah satu pelajaran hidup yang paling sulit diterima.
Kita tidak bisa membuat semua orang senang.
Selalu akan ada orang yang kecewa.
Selalu ada yang salah paham.
Selalu ada yang merasa kita berubah.
Terutama saat kita mulai punya batasan.
Dulu selalu mengalah.
Sekarang mulai berani bicara.
Dulu selalu tersedia.
Sekarang mulai menjaga energi.
Dan itu tidak apa-apa.
Karena hidup yang sehat bukan tentang disukai semua orang, tetapi tentang tetap menjadi diri sendiri tanpa terus-menerus menyakiti hati sendiri.
Belajar Membuat Batasan yang Sehat
Salah satu bentuk mencintai diri sendiri adalah belajar membuat batasan (boundaries).
Batasan bukan berarti jahat.
Bukan berarti berubah dingin.
Bukan berarti tidak peduli.
Justru batasan membantu kita menjaga kesehatan mental dan emosional.
Batasan sederhana bisa dimulai dari:
tidak selalu membalas chat saat sedang lelah,
menolak ajakan yang membuat tidak nyaman,
berhenti memaksakan diri hadir di semua tempat,
punya waktu sendiri tanpa rasa bersalah,
tidak terus-menerus menjelaskan keputusan kepada orang lain.
Awalnya memang terasa tidak enak.
Apalagi jika kita terbiasa menjadi “orang yang selalu bisa diandalkan”.
Namun perlahan kita belajar:
tidak semua hal harus direspons.
Tidak semua orang harus disenangkan.
Perempuan Juga Berhak Memilih Diri Sendiri
Seringkali perempuan merasa bersalah saat memprioritaskan dirinya sendiri.
Padahal, kalau diri kita terus kosong, bagaimana bisa terus memberi?
Tubuh bisa lelah.
Mental juga bisa lelah.
Maka memilih diri sendiri bukan tindakan egois.
Melainkan bentuk merawat diri.
Mulailah dari hal sederhana:
tidur yang cukup,
memberi jeda untuk diri sendiri,
menulis jurnal,
melakukan hal yang disukai,
jujur pada perasaan sendiri,
berhenti memaksa diri terlihat kuat setiap saat.
Karena perempuan juga manusia.
Bukan mesin yang harus selalu kuat, selalu sabar, dan selalu tersedia.
Baca Juga : Perempuan 2026: Sudahkah Kita Siap Bertumbuh, Bukan Sekadar Bertahan?
Belajar Mendengar Diri Sendiri
Di tengah bisingnya ekspektasi orang lain, kadang kita lupa mendengarkan suara hati sendiri.
Padahal, diri kita juga butuh didengar.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk:
menjadi ibu yang sempurna,
istri yang sempurna,
anak yang sempurna,
atau perempuan yang selalu terlihat baik.
Sampai lupa bertanya:
“Apa yang sebenarnya kita rasakan?”
“Apa yang sebenarnya kita butuhkan?”
Bengkel Bunda hadir sebagai ruang bertumbuh bagi perempuan untuk mengenal dirinya lebih dalam, membangun kepercayaan diri, dan berdamai dengan dirinya sendiri.
Dan mungkin, salah satu langkah awal untuk selesai dengan diri sendiri adalah berhenti hidup hanya demi validasi orang lain.
Menjadi Perempuan yang Utuh, Bukan Sekadar Disukai
Menjadi perempuan yang baik tidak harus selalu mengalah.
Menjadi lembut tidak berarti harus terus menahan diri.
Menjadi peduli tidak berarti harus melupakan diri sendiri.
Kita tetap bisa menjadi perempuan hangat tanpa kehilangan batas.
Tetap bisa membantu tanpa memaksakan diri.
Tetap bisa peduli tanpa mengorbankan kesehatan mental sendiri.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak orang menyukai kita.
Tetapi tentang bagaimana kita bisa hidup dengan lebih tenang, lebih jujur pada diri sendiri, dan lebih bahagia menjalani peran sebagai perempuan.
Yuk, sahabat Bengkel Bunda…
pelan-pelan belajar memilih diri sendiri tanpa rasa bersalah.
Baca Juga : Burnout Ibu Rumah Tangga: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
FAQ
Apa itu people pleasing?
People pleasing adalah kecenderungan untuk terus berusaha menyenangkan orang lain, bahkan sampai mengabaikan kebutuhan diri sendiri.
Apakah membuat batasan itu egois?
Tidak. Membuat batasan justru penting agar hubungan tetap sehat dan kita tidak kelelahan secara emosional.
Kenapa perempuan sering merasa tidak enakan?
Karena banyak perempuan tumbuh dengan pola asuh dan lingkungan yang menuntut mereka untuk selalu menjaga perasaan orang lain.
Bagaimana cara belajar berkata tidak?
Mulailah dari hal kecil. Tidak perlu memberi penjelasan panjang. Jawaban sederhana seperti “Maaf, saya belum bisa” sudah cukup.
Bagaimana agar tidak terlalu memikirkan pendapat orang?
Fokus pada kebutuhan dan nilai diri sendiri. Tidak semua komentar atau penilaian orang harus dijadikan standar hidup.


No comments