Mengenali Inner Child dan Dampaknya bagi Orang Tua

 Mengenali Inner Child dan Dampaknya bagi Orang Tua


Halo, sahabat Bengkel Bunda! 


Pernahkah sahabat marah kepada anak hanya karena hal sepele? 


Pernahkah sahabat merasa menyesal setelah membentak anak? 


Apakah sahabat selalu ingin menjadi ibu yang sabar bagi anak? 


Atau, apakah sahabat jadi mudah tersinggung saat anak membantah? 


Pertanyaan-pertanyaan reflektif di atas menjadi pembuka acara webinar Labu di Pojok Bengkel Bunda, atau Obrolan Rabu di Pojokan Bengkel Bunda, pada 30 September 2026.


Dalam webinar yang berjudul “Mengidentifikasi dan Dampak Inner Child Pada Orang Tua”,  Bengkel Bunda menghadirkan Ariny Ma'rifah, Founder Ibupreneur Circle untuk berbagi tentang bagaimana cara mengenali dan dampak inner child pada orang tua. 


Webinar ini juga memberikan panduan praktis untuk bisa menyembuhkan inner child. 


Apa itu Inner Child? 


Coba kita refleksi, kembali lagi ke pertanyaan pembuka di atas. Jawablah semua pertanyaan di atas secara jujur. 


Jika kebanyakan jawabannya, pernah, bisa jadi ini bukanlah kesalahan anak. Semua itu terjadi karena ada sesuatu dalam diri kita yang belum selesai. 


Inner child adalah bagian dari diri kita yang menyimpan :

  • Pengalaman masa kecil

  • Luka emosional

  • Kebutuhan yang belum dipenuhi

  • Rasa takut

  • Rasa ditolak

  • Rasa tidak dihargai

  • Rasa tidak dicintai



Semua itu masih itu masih ikut berbicara sampai hari ini. Bahkan, saat kita sudah menjadi orang tua. 


Kenapa Inner Child Perlu Dipahami? 


Saat inner child belum selesai ketika kita menjadi orang tua, ini bisa mempengaruhi pola pengasuhan kita. 


Jika orang tua belum tuntas mengenali dirinya sendiri, ia akan cenderung mengulang pola pengasuhan sebelumnya. 


Tanpa sadar, kita mengulang pola pengasuhan yang pernah diterima dari orang tua. 


Ketika anak melakukan kesalahan, kita langsung membentak. Ini persis yang kita alami saat kecil dulu. 


Tentu saja, kita melakukannya karena tidak sadar, bukan berarti tidak sayang anak. Kita hanya belum sembuh dari luka masa kecil. 


Inner child perlu dipahami, agar kita bisa memutus rantai luka masa kecil. Biarkan lukanya berhenti di kita. Jangan wariskan luka ini pada generasi selanjutnya. 


Kapan Inner Child Muncul? 


Apakah inner child yang belum selesai ini akan selalu membayangi kehidupan kita saat ini? Tentu saja tidak selalu. 


Ada beberapa kondisi yang membuat inner child ini muncul. 


Misalnya, saat ini anak cenderung biasa-biasa saja. Anak tidak memiliki prestasi tertentu yang bisa dibanggakan. 


Kondisi ini langsung membuat kita panik. Kita langsung stress dan overthinking, bahkan sampai takut anak tidak tumbuh menjadi orang yang sukses. 


Di sinilah inner child muncul. Dulu saat kecil, kita sering dibandingkan. Sekarang, kita jadi panik dan ketakutan saat anak tidak berprestasi. 


Atau, pernahkah sahabat merasa sangat gampang tersulut emosi jika melihat anak melakukan kesalahan? Meski itu adalah kesalahan kecil? 


Jika pernah, bisa jadi itu adalah inner child kita. Saat kecil kita sering dimarahi. Jadi, sekarang kita pun gampang marah ke anak. 


Inner child yang belum tersentuh akan terus muncul dalam reaksi kita sehari-hari. 


Kenali, pahami, dan sembuhkan inner child-mu. 


Langkah Mengenali Inner Child


Berikut ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengenali inner child. 

  • Berhenti menyalahkan diri sendiri

  • Belajar mengamati emosi

  • Kenali pola yang berulang

  • Terima bahwa luka itu memang ada

  • Mulailah berdamai dengan masa lalu



Sadari bahwa kita memiliki luka masa lalu. Kesadaran menjadi langkah awal menuju penyembuhan. 


Tentu kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Luka masa lalu ini mungkin tidak bisa dilupakan, tapi sangat mungkin untuk disembuhkan. 


Manfaat Mengenali Inner Child


Mengenali inner child tidak hanya membantu kita untuk menyembuhkannya. Tetapi juga memiliki dampak positif dalam kehidupan kita saat ini. 


Misalnya:

  • Lebih tenang dalam menghadapi anak

  • Tidak mudah meledak

  • Mampu mengontrol emosi

  • Lebih percaya diri

  • Hubungan suami istri lebih hangat

  • Komunikasi dengan anak jadi lebih baik

  • Lebih mudah memaafkan

  • Merasa damai dengan diri sendiri



Dampak Inner Child yang Belum Selesai


Inner child bukan berarti kita “rusak” karena masa kecil. 


Namun, pengalaman masa kecil yang menyakitkan atau kebutuhan emosional yang belum terpenuhi, dapat mempengaruhi cara kita merespon situasi. 


Baca Juga : Cara Jitu Menjadi Ibu yang Cerdas Emosi


Berikut dampak inner child yang belum selesai pada orang tua:


  1. Mudah terpancing emosi

Masalah sepele yang anak lakukan bisa langsung memicu kemarahan, karena luka masa lalu belum sembuh. 

  1. Terlalu takut anak gagal

Tanpa disadari memberikan tekanan berlebihan karena takut anak mengalami kegagalan yang pernah kita lakukan. 

  1. Haus validasi

Merasa harus selalu menjadi ibu yang sempurna, takut dianggap gagal dan sulit menerima kritik. 

  1. Sulit menerima kesalahan anak

Kesalahan kecil terasa sangat mengganggu, karena dulu kita sering dihukum atau tidak diberi ruang untuk belajar dari kesalahan. 

  1. Sulit mengekspresikan kasih sayang

Mencintai anak tetapi kesulitan untuk menunjukkannya secara verbal maupun fisik karena dulu jarang mendapatkan kasih sayang. 

  1. Menjadi terlalu keras atau justru terlalu permisif

Luka masa lalu bisa memunculkan dua respon yang berbeda. Bisa menjadi orang tua yang keras dan terlalu menuntut. Atau sebaliknya, sulit memberikan batas, karena tak ingin anak merasakan hal yang sama. 

  1. Sulit mengontrol respon ketika merasa ditolak

Ucapan atau respon anak yang terasa menolak, bisa memicu rasa sakit lama. Akhirnya, reaksi kita menjadi lebih berlebihan dari yang seharusnya. 



Cara Menyembuhkan Inner Child


Lalu apa yang bisa kita lakukan? Tentu saja bukan dengan mengalahkan diri sendiri. 


Melainkan dengan : 

Berhenti ➡️ Menyadari ➡️ Memahami ➡️ Memberi Respon Baru


Praktik 1 : PAUSE


Saat kita mulai terpancing, lakukan :

  • STOP

  • Tarik napas perlahan tiga kali

  • Jangan langsung memberikan respon


Tanyakan pada diri sendiri : 

“ Aku sedang marah kepada anakku, atau sedang bereaksi kepada sesuatu yang terasa familiar dari masa laluku? “


Ingat, tidak semua emosi hari ini murni berasal dari kejadian saat ini. Kadang ada luka lama yang ikut muncul. 


Praktik 2 : NAME IT


Berikan nama pada emosi. 


Bukan hanya “Aku Marah” , tetapi coba :

  • Aku Kecewa ➡️ ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan

  • Aku Takut ➡️ ketika merasa ada ancaman atau ketidakpastian

  • Aku Merasa Tidak Dihargai ➡️ ketika merasa usaha dan perasaan tidak diperhatikan

  • Aku Merasa Gagal ➡️ ketika merasa tidak mampu atau tidak memenuhi ekspektasi

  • Aku Sedang Kewalahan ➡️ ketika merasa terlalu banyak yang harus dilakukan


Mengenali Inner Child dan Dampaknya bagi Orang Tua


Ketika emosi kita diberi nama, maka akan mudah untuk mengelolanya. 


Praktik 3 : KENALI TRIGGER


Kenali pemicu atau trigger munculnya inner child. Mulailah dengan membuat jurnal sederhana. 


Dengan menuliskannya, kita lebih mudah memahami pola yang muncul. 


Misalnya : 


  1. Situasi

Anak tidak mau belajar

  1. Reaksi saya

Marah dan meninggikan suara

  1. Emosi yang muncul

Takut dan kecewa

  1. Pikiran saya

“Kalau dia tidak serius, masa depannya bagaimana? “

  1. Pertanyaan refleksi

“Apakah ketakutan ini benar-benar muncul dari situasi ini?”



Berikut formula sederhana untuk menghadapi inner child. 


Trigger ➡️ Pause ➡️ Feel ➡️ Understand ➡️ Choose


Saat pemicu muncul, ambil jeda sejenak. Rasakan dan kenali emosi yang muncul. Lalu, tentukan respon apa yang akan kita berikan. 


Baca Juga : Manfaat Rutin Menulis Jurnal Harian, Kebiasaan Sederhana dengan Dampak Luar Biasa


Hal yang perlu dilakukan setelah membaca artikel ini :


  1. Tulis jurnal emosi setiap malam

  2. Catat kapan kita marah

  3. Tanyakan : “perasaan apa yang sebenarnya muncul”

  4. Beri jeda sebelum bereaksi

  5. Belajar menerima diri sendiri



Penutup


Luka yang disembuhkan tidak akan diwariskan. Semoga setelah mengenali inner child, kita bisa menyembuhkannya. 


Baca Juga : Memberikan Warisan Terbaik untuk Anak


Dengan begitu, kita akan menjadi orang tua yang lebih utuh dan lebih tenang. Kita bisa lebih lembut pada diri sendiri, sekaligus hangat pada anak. 


Karena, anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang terus belajar, bertumbuh, dan berani menyembuhkannya dirinya sendiri. 


No comments