Halo, Sahabat Bengkel Bunda!
Apa kabar hari ini?
Pernah nggak, sahabat merasa khawatir ketika melihat anak seusianya sudah lancar membaca, sementara anak kita masih lebih senang melihat gambar, mendengarkan cerita, atau bahkan pura-pura membaca buku?
Kemudian muncul pertanyaan dalam hati,
“Apakah anak saya sudah berliterasi?”
Ternyata, jawabannya mungkin jauh lebih sederhana dari yang kita bayangkan.
Anak tidak harus sudah bisa membaca kata demi kata untuk dikatakan sedang belajar literasi.
Ketika anak mendengarkan cerita, berbicara dengan orang tua, bertanya, menunjuk gambar, pura-pura membaca, mencoret-coret, atau menceritakan pengalaman, sebenarnya fondasi literasinya sedang dibangun.
Hal ini menjadi salah satu pembahasan menarik dalam Labu di Pojok Bengkel Bunda, atau Obrolan Rabu di Pojokan Bengkel Bunda, pada 9 September 2026.
Dalam kegiatan bertema “Mengenalkan Literasi pada Anak Usia Dini”, Bengkel Bunda menghadirkan Afriza Hanifa, Founder Ibu Literasi, untuk berbagi tentang bagaimana orang tua dapat mengenalkan literasi kepada anak dengan cara yang menyenangkan.
Menariknya, literasi ternyata bukan perlombaan untuk membuat anak cepat membaca.
Literasi Itu Sebuah Perjalanan
Sahabat Bengkel Bunda, ketika berbicara tentang kondisi literasi, kita mungkin pernah mendengar tentang PISA.
PISA atau Programme for International Student Assessment merupakan studi evaluasi pendidikan yang diselenggarakan OECD dan dilakukan setiap tiga tahun.
Dalam materi yang disampaikan pada Labu di Pojok, disebutkan bahwa skor membaca Indonesia pada PISA 2025 meningkat enam poin dibandingkan 2022, dari 359 menjadi 365.
Namun, ada angka lain yang juga perlu menjadi perhatian.
Hanya sekitar 27 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam kemampuan membaca. Sementara sekitar 73 persen siswa usia 15 tahun belum mencapai tingkat minimum kecakapan membaca.
Lalu, apa hubungannya dengan anak usia dini?
Memang, PISA mengukur kemampuan anak usia 15 tahun.
Tetapi anak berusia 15 tahun tentunya tidak tiba-tiba belajar membaca ketika menginjak usia tersebut.
Sebelumnya ia adalah bayi.
Kemudian balita.
Anak prasekolah.
Siswa SD.
Lalu remaja.
Pondasi bahasa, kosakata, pemahaman, rasa ingin tahu, kemampuan berpikir, hingga hubungan anak dengan buku sudah dibangun jauh sebelumnya.
Jadi, literasi adalah sebuah perjalanan panjang.
Bukan target agar anak secepat mungkin bisa membaca.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan Ibu?
Tenang, sahabat.
Kita tidak perlu membuat program literasi yang rumit di rumah.
Dalam sesi Labu di Pojok, Afriza Hanifa membagikan formula sederhana yang bisa kita ingat:
BACA — BICARA — BERMAIN
1. Baca Buku Bersama Anak
Kegiatan pertama tentu saja membaca.
Bacakan buku untuk anak setiap hari.
Tidak harus buku yang mahal. Tidak harus pula selalu membeli buku baru.
Yang terpenting adalah memberikan pengalaman menyenangkan saat anak bersama buku.
Jadikan membaca sebagai bagian dari rutinitas keluarga.
Misalnya membaca buku sebelum tidur.
Atau meluangkan waktu beberapa menit pada sore hari.
Yang penting konsisten.
2. Jangan Hanya Membaca, Ajak Anak Bicara
Nah, ini yang menarik.
Setelah selesai membaca buku, jangan buru-buru menutup buku dan beralih ke aktivitas lain.
Ajak anak berdiskusi.
Misalnya dalam sebuah cerita ada tokoh yang sedang menangis.
Kita bisa bertanya:
“Menurutmu, kenapa anak ini menangis?”
Kemudian:
“Kalau kamu ada di sampingnya, apa yang akan kamu lakukan?”
Lalu:
“Menurutmu, setelah ini apa yang akan terjadi?”
Pertanyaan sederhana seperti ini ternyata bisa membuka ruang berpikir yang luar biasa untuk anak.
Anak belajar mengamati, mencari alasan, memprediksi, berempati, sekaligus belajar menyampaikan pendapatnya.
Jadi, tujuan membaca bukan hanya supaya anak tahu jawabannya.
Tetapi juga supaya anak mau berpikir dan berani berbicara.
3. Ubah Cerita Menjadi Permainan
Setelah membaca cerita tentang dokter, misalnya, kita bisa bermain dokter-dokteran.
Membaca cerita tentang pasar?
Yuk, bermain jual-beli.
Ada cerita tentang memasak?
Bisa dilanjutkan dengan memasak bersama anak.
Dengan cara seperti ini, anak tidak hanya mendengar cerita.
Anak mendapatkan pengalaman langsung dari cerita yang dibacanya.
Apa Itu Read Aloud?
Sahabat Bengkel Bunda mungkin sudah sering mendengar istilah read aloud.
Secara sederhana, read aloud adalah kegiatan membacakan buku dengan suara lantang dan jelas.
Namun, ternyata read aloud bukan hanya tentang membaca dengan suara keras.
Read aloud yang bermakna melibatkan:
suara + ekspresi + interaksi + percakapan + pemikiran.
Misalnya ketika membaca buku bersama anak.
Daripada hanya bertanya,
“Ini siapa?”
“Warnanya apa?”
“Dia sedang apa?”
Kita bisa mengembangkan pertanyaan.
“Menurutmu, kenapa dia menangis?”
“Kalau kamu jadi temannya, apa yang akan kamu lakukan?”
“Menurutmu, setelah ini apa yang terjadi?”
Nah, dari sini anak tidak sekadar belajar menjawab pertanyaan.
Ia belajar memahami, memprediksi, berempati, dan menyampaikan pemikirannya.
Menarik, ya?
Ternyata dari satu buku saja kita bisa membuka begitu banyak ruang belajar.
Bagaimana dengan Screen Time?
Di zaman sekarang, membicarakan literasi tentu tidak bisa dilepaskan dari teknologi.
Anak-anak semakin dekat dengan gadget dan berbagai konten digital.
Apakah berarti buku digital tidak boleh digunakan?
Tentu tidak.
Buku digital juga bisa menjadi alternatif, terutama ketika kita membutuhkan lebih banyak pilihan bacaan untuk anak.
Dalam sesi Labu di Pojok, disampaikan bahwa buku digital dapat digunakan sebagai pelengkap buku fisik. Beberapa sumber buku digital gratis yang bisa dimanfaatkan orang tua antara lain Literacy Cloud, Let's Read, Budi Kemendikdasmen, dan SIBI Kemendikdasmen.
Baca Juga : Anak Gen Alpha dan Tantangan Orang Tua di Era AI
Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.
Tetap dampingi anak.
Walaupun membaca melalui perangkat digital, tetap ajak anak berdiskusi.
Tanyakan pendapatnya.
Hubungkan cerita dengan kehidupan sehari-hari.
Karena yang kita bangun bukan hanya kemampuan anak membaca buku.
Kita sedang membangun kecintaan anak terhadap membaca dan belajar.
Bagaimana Kalau Anak Lebih Suka Novel atau Komik?
Pertanyaan ini juga muncul dalam sesi diskusi Labu di Pojok.
Ada orang tua yang sudah mengenalkan buku sejak anak kecil. Bahkan ada yang rutin membacakan buku sebelum tidur.
Namun, ketika anak semakin besar, ia justru lebih tertarik membaca novel atau komik dibandingkan buku pelajaran.
Apakah berarti ada yang salah?
Belum tentu.
Dalam diskusi tersebut, ada pengalaman seorang ibu yang sejak anak-anaknya kecil sudah mengenalkan buku. Bahkan ketika tinggal di Bintan dengan akses buku dan internet yang terbatas, keluarga tersebut pernah membuka pondok literasi sederhana di rumah.
Baca Juga : Perempuan, Yuk Berdayakan Diri Melalui Literasi
Anaknya pun tetap memiliki minat membaca.
Hanya saja, ia lebih tertarik pada bacaan di luar pelajaran.
Menurut Afriza, tidak ada yang salah dengan proses literasi keluarga tersebut.
Jika anak menyukai novel, minat tersebut justru dapat dikembangkan dengan meningkatkan level bacaannya. Sementara untuk buku pelajaran, orang tua dapat mendampingi anak melalui membaca bersama dan berdiskusi agar kegiatan belajar terasa lebih menyenangkan.
Jadi, mungkin bukan anaknya yang tidak suka membaca.
Bisa jadi anak belum menemukan pengalaman yang menyenangkan ketika membaca buku pelajaran.
Yuk, Mulai dari Rumah!
Sahabat Bengkel Bunda, setelah mengikuti obrolan tentang literasi ini, saya jadi berpikir bahwa mengenalkan literasi kepada anak sebenarnya bisa dilakukan dengan cara yang sederhana.
Tidak harus membuat perpustakaan besar di rumah.
Tidak harus membeli puluhan buku.
Tidak harus membuat target membaca yang membuat anak justru merasa terbebani.
Kita bisa mulai dari satu buku.
Satu cerita sebelum tidur.
Satu percakapan setelah membaca.
Satu permainan yang terinspirasi dari cerita.
Kemudian dilakukan lagi esok hari.
Pelan-pelan.
Konsisten.
Karena mungkin yang paling penting bukan seberapa cepat anak bisa membaca.
Tetapi seberapa dekat anak dengan buku dan seberapa menyenangkan pengalaman membacanya.
Kita mungkin tidak bisa mengubah kondisi literasi Indonesia dalam satu hari.
Tetapi kita bisa memberikan pengalaman literasi yang lebih baik kepada anak kita hari ini.
Dan ketika satu ibu melakukannya, kemudian ibu lainnya ikut melakukannya, lalu semakin banyak keluarga membangun kebiasaan membaca di rumah, bukan tidak mungkin kita sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar.
Budaya literasi dari keluarga.
Jadi, yuk sahabat Bengkel Bunda, mulai dari sekarang.
Baca. Bicara. Bermain.
Karena literasi anak ternyata tidak dimulai ketika anak sudah bisa membaca.
Literasi dimulai dari rumah, dari percakapan sederhana, dan dari kebiasaan kecil yang kita lakukan bersama anak.

No comments